Hassan Wirajuda: pemilihan raya paruh waktu Negeri Paman Sam kunci masa depan kebijakan pemerintah Trump

Ibukota – Menteri Luar Negeri Negara Indonesia periode 2001-2009, Hassan Wirajuda, menganggap pemilihan umum paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat akan menjadi salah satu tolak ukur penting untuk menakar keberlanjutan kebijakan yang diberlakukan Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump.
Pernyataan yang disebutkan disampaikan Hassan ketika menjadi pembicara pada seminar rakyat dengan tema “Ineffective Global Order and Trump 2.0: Toward A Chaotic World?” yang disaksikan secara daring di Jakarta, Sabtu.
“Pertama, harus kita lihat akan adanya midterm election dua tahun dari sekarang. Apabila keresahan, ketidakpuasan, rakyat Amerika dicerminkan di midterm election, memilih anggota House juga Senate, ada kemungkinan bahwa ucapan mayoritas dalam Partai Republik di House dan Senate bisa bergeser ke Partai Demokrat,” katanya.
Hassan menuturkan bahwa pengenaan tarif merupakan kebijakan Trump yang paling kontroversial, baik pada tingkat domestik maupun internasional. Selain itu, dasar pengenaan tarif, yang dimaksud ditujukan untuk melakukan penutupan defisit perdagangan, tak memperhitungkan perdagangan jasa ke mana surplus Negeri Paman Sam justru besar.
Kendati terdapat potensi transformasi pendapat rakyat Amerika dari Partai Republik, yang tersebut merupakan partai pengusung Trump, ke Partai Demokrat pada pemilihan umum paruh waktu yang digunakan akan dilaksanakan pada November 2026 mendatang, Hassan turut menyoroti popularitas Demokrat yang mana rendah pasca kekalahan pada pemilihan presiden 2024 lalu.
“Persoalannya, Partai Demokrat sendiri namanya tak punya alternatif strategi juga sekarang Partai Demokrat juga ratingnya sangat rendah setelahnya kekalahan (Kamala) Harris pada masa pemilihan tahun lalu,” ucapnya.
Selain pemilihan umum paruh waktu, Hassan yang digunakan juga menjabat sebagai Rektor Universitas Prasetiya Mulya itu menyampaikan bahwa rakyat global juga harus memperhatikan ambisi Trump untuk menjabat sebagai presiden untuk periode ketiga.
Meskipun berdasarkan Amandemen ke-22 Konstitusi Amerika Serikat membatasi seseorang presiden belaka boleh menjabat dua kali, juga Trump sendiri sudah menyatakan ia tak berencana untuk mencalonkan diri dan juga menegaskan akan menghormati batas konstitusional, Hassan menafsirkan pernyataan Trump tidaklah sepenuhnya dapat dipercaya.
“Jadi bagaimanapun juga beliau bilang enggak, tapi semua pendatang enggak percaya. Karena Trump bisa saja bicara pagi ini, sorenya udah berbeda. Tapi menariknya ia itu Presiden teflon, apapun beliau katakan enggak pernah nempel. Jadi luntur saja,” ujarnya.
Dirinya menambahkan bahwa pengenaan tarif tak hanya sekali mengabaikan aturan pada Organisasi Perdagangan Bumi (WTO), tetapi juga mengabaikan ketentuan-ketentuan pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mana mencakup aturan mengenai kedaulatan negara, keutuhan wilayah, kemudian prinsip non-intervensi.
Artikel ini disadur dari Hassan Wirajuda: Pemilu paruh waktu AS kunci masa depan politik Trump






