Galau PPN Naik Jadi 12 Persen di dalam 2025, Pabrikan Mobil Cari Solusi!

JAKARTA – eksekutif “keukeuh” meningkatkan tarif PPN jadi 12 persen mulai 1 Januari 2025. Alasannya? Amanat UU HPP yang dimaksud dibuat dalam era Jokowi. Nah, bagaimana dampaknya terhadap transaksi jual beli mobil?
Tarif PPN 12 persen berlaku untuk semua barang juga jasa yang mana selama ini dikenakan PPN 11 persen. Mulai dari sabun mandi, makanan, pulsa, Netflix, hingga kendaraan.
Tentu saja, kenaikan PPN ini dikhawatirkan akan membebani masyarakat, apalagi dalam berada dalam kondisi daya beli yang mana melemah. Harga barang dan juga jasa akan naik, sementara pendapatan rakyat belum tentu terlibat naik.
Nah, bagaimana sektor otomotif mengawasi hal ini?
Public Relations Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Philardi Ogi mengatakan, tiada dapat dihindari bahwa kenaikan PPN 12% akan berdampak pada harga jual kendaraan. “Sebagai bagian dari sektor otomotif Indonesia, Toyota meyakini bahwa kebijakan ini sudah pernah diterapkan dengan pertimbangan yang tersebut matang serta bertujuan untuk memperkuat penyelenggaraan negara,” ungkap Ogi.
Namun, Ogi mengatakan bahwa pihaknya juga berharap adanya dukungan dari pemerintah, khususnya untuk item yang digunakan diproduksi di area pada negeri.
“Secara internal, kami juga sedang mendiskusikan strategi bersatu Dealer & Value Chain untuk terus menyediakan paket solusi mobilitas dan juga aftersales yang tersebut kompetitif guna memenuhi beragam kebutuhan,” ungkapnya.
Untuk mengkompensasi kenaikkan nilai tukar dari komponen pajak dalam tahun depan, Ogi melanjutkan, TAM berkoordinasi intens dengan manufaktur untuk meminimalisir kenaikkan tarif dari sisi produsen. “Sehingga kenaikan tarif sanggup ditekan seminimal mungkin,” bebernya.
Sementara itu, Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy, mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi kebijakan stimulus yang digunakan diberikan Pemerintah. “Karena secara umum dapat membantu menggerakan perekonomian lalu meningkatkan daya beli publik ya,” ungkap Billy.
“Khusus untuk lapangan usaha otomotif, teristimewa kebijakan insentif untuk hybrid, kami akan mempelajari lebih tinggi lanjut ya implementasi turunan aturannya juga dampaknya terhadap pasar,”iamenambahkan.






