Gandeng Musisi Sheryl Sheinafia, Komdigi Ajak Generasi Muda Muda Lawan Judol

JAKARTA – Judi online (judol) semakin menjadi ancaman serius di tempat Indonesia, khususnya bagi generasi muda. Berdasarkan data terbaru dari Pusat Pelaporan dan juga Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), sekitar 4 jt pengguna internet pada Indonesia terlibat di aktivitas perjudian online pada tahun 2024. Lebih mengejutkan lagi, 80.000 di dalam antaranya adalah anak-anak pada bawah usia 10 tahun.
Kerugian yang mana diakibatkan oleh praktik ilegal ini mencapai bilangan bulat fantastis, yaitu Rp27 triliun per tahun. Pengaruh dari judol bukan hanya saja merugikan secara finansial, tetapi juga menciptakan hambatan sosial serta kebugaran yang digunakan serius.
Sebagai bentuk komitmen memberantas praktik ilegal ini, Kementerian Komunikasi juga Digital (Kemkomdigi) terus melakukan berbagai upaya, baik secara mandiri maupun bekerja identik dengan kementerian lalu lembaga terkait. Salah satu inisiatif terbaru adalah podcast bertajuk Lari dari Judol yang digunakan akan tayang di tempat kanal YouTube Teras Negeriku pada 31 Desember 2024.
Diskusi pada podcast ini menghadirkan Sekretaris Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan juga Industri Media (KPM) Kemkomdigi, Mediodecci Lustarini, bersatu musisi Sheryl Sheinafia. Mereka berbagi pandangan inspiratif tentang gaya hidup sehat serta cara menghindari jebakan easy money yang ditawarkan oleh judi online.
Judol telah dilakukan mengalami perkembangan dengan modus semakin canggih. Kemudahan akses dan juga penawaran manipulatif sebagai kemenangan palsu juga semakin tersamarkan. Langkah ini sudah pernah menjebak sejumlah individu di lingkaran kecanduan. Hingga 27 Desember 2024, Kemkomdigi sudah memblokir 5.512.602 konten terkait judol di dalam berbagai platform digital digital.
Mediodecci menjelaskan bagaimana judol memberi dampak buruk pada fisik, psikologis, maupun sosial masyarakat. Angka digital Indonesia per Januari 2024, katanya, tercatat ada 185 jt pengguna internet dalam Indonesia dengan waktu berselancar paling tinggi pada dunia yaitu 7 hingga 8 jam per hari. Jumlah ini kurang lebih tinggi 70% dari jumlah total penduduk, pada mana 139 jt di area antaranya pengguna media sosial dengan waktu menggunakannya 3 jam per hari. Dari 139 jt itu, 90% adalah pengguna aplikasi mobile WhatsApp, 85% Instagram, dan juga selebihnya adalah pengguna Facebook lalu TikTok.
“Pergerakan dana dari aktivitas-aktivitas yang disebutkan sangat besar, khususnya terkait judol. Dan 80.000 yang mana tersasar adalah dia yang dimaksud masuk kategori anak-anak,” ujar Medidecci di keterangannya, Hari Minggu (29/12/2024).
Bagaimana cara kerja judol yang mana kian canggih pada memanfaatkan tampilan menarik, bonus promosi, serta algoritma yang digunakan dirancang untuk menimbulkan pemain ketagihan? Mediodecci mengungkapnya dengan gamblang.
“Begitu mudah mengakses situs judol. Maraknya game online menjadi pintu masuk para pelaku untuk menjaring pengikut. Sangat tipis membedakan game yang dimaksud benar atau judol. Jadi setiap saat waspada juga awasi anak-anak kita,” ujarnya.
Iklan judol bahkan kerap muncul terselubung di dalam platform-platform populer yang kemungkinan besar pemilik pun tidaklah sadar akunnya terafiliasi atau dimanfaatkan pelaku judol. Mediodeci mengingatkan untuk warga khususnya terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh sebab itu tidak hanya sekali merek yang tersebut terindikasi melindungi judol, tapi yang digunakan bermain pun akan diproses hukum.






