Impor Baja Cina Melonjak 34 Persen, IISIA: Lonceng Kematian Industri Baja Nasional

Jakarta – Asosiasi Industri Besi juga Baja Nusantara (IISIA) mewanti-wanti akibat dumping baja dari Cina terhadap bidang baja nasional. Jila tak segera disikapi pemerintah, dumping baja dari Negeri Panda itu dikhawatirkan akan menghancurkan sektor baja pada negeri.
Direktur Eksekutif IISIA Widodo Setiadharmaji mengutarakan dumping item baja dari Cina menghantui bidang baja nasional. Dengan masifnya laju impor itu, ia gelisah peningkatan pangsa domestik tidaklah akan dinikmati oleh produsen baja nasional.
Saat ini, Widodo mengatakan, tingkat utilisasi kapasitas produksi baja nasional pada beberapa segmen berada di dalam bawah 60 persen, bahkan ada yang tersebut kurang dari 30 persen. Kondisi ini, menurut dia, jarak jauh dari keadaan ideal utilisasi kapasitas sekitar 80 persen yang mana memungkinkan produsen baja beroperasi secara efisien lalu menghasilkan kembali keuntungan.
Jika tidaklah ada proteksi pemerintah secara cepat lalu segera, Widodo mengatakan, lapangan usaha baja nasional akan mengalami kebangkrutan. “Ibarat ayam terhenti di dalam lumbung padi,” ucapnya pada waktu dihubungi Tempo, Ahad, 6 Oktober 2024.
IISIA mencatatkan pada semester I 2024, impor baja dari Cina naik sebesar 34 persen secara tahunan dari 2,23 jt ton berubah menjadi 2,98 jt ton. Angka ini diproyeksikan akan semakin meningkat jikalau tak ada langkah proteksi pemerintah. “Banjir impor item baja jika Tiongkok akan berubah menjadi lonceng kematian sektor baja nasional,” ucap Widodo.
Di pada negeri, permintaan baja nasional bertambah seiring dengan perkembangan perekonomian dengan CAGR berkisar 5,4 persen. Pada 2021 pasca Covid-19, permintaan baja pada negeri mencapai 15,5 jt ton, meningkat berubah jadi 16.6 jt ton pada tahun 2022, juga naik bermetamorfosis menjadi 17,5 jt ton pada tahun 2023.
Permintaan ini diperkirakan akan terus meningkat dengan tingkat peningkatan 5,7 persen berubah menjadi 18,5 jt ton pada 2024 dengan memperhatikan realisasi peningkatan dunia usaha yang tersebut mencapai 5,08 persen sepanjang semester I 2024.
Berdasarkan data-data tersebut, Widodo meyakini permintaan produk-produk baja nasional akan bertambah 5,7 persen menjadi 18,5 jt ton sesuai perkiraan sebelumnya.
Kendati begitu, survei internal IISIA menunjukkan hingga kuartal III 2024, produsen baja nasional sangat sulit mengirimkan produknya. Sejumlah perusahaan melaporkan sudah pernah kehilangan pangsa lingkungan ekonomi hingga lebih besar dari 20 persen. Bahkan, sebagian di dalam antaranya tiada bisa saja melakukan penjualan.
Tak belaka kehilangan pangsa bursa domestik, produk-produk baja yang kelewat hemat dari Negeri Panda juga menghancurkan biaya pasar.
Artikel ini disadur dari Impor Baja Cina Melonjak 34 Persen, IISIA: Lonceng Kematian Industri Baja Nasional






