Memanggil Alumni, Memuliakan Negeri?

Bambang Asrini Widjanarko
Pemerhati Sosial dan juga Budaya, Pemateri dalam Salah Satu Proyek Tegalboto Memanggil ke-3, 2024
“MAKSUD pengajaran dan juga sekolah yang berguna untuk keberadaan bersatu adalah memerdekakan manusia sebagai anggota persatuan (rakyat).” – Ki Hajar Dewantara
Alumni sebuah Perguruan Tinggi seharusnya seperti yang mana dicita-citakan Ki Hajar Dewantara, yakni menjadikan manusia ‘merdeka’ sebagai anggota masyarakat. Alumni itu manusia Sujana, Sarjana, yakni bijak, pintar dan juga berbudi. Yang membebaskan kebodohan dan juga memberikan pencerahan-pencerahan dan juga berkontribusi untuk kemaslahatan sama-sama dalam masyarakat.
Sementara itu tugas negara, tentu dengan cita-cita yang mana tinggi menjalankan entitas besar bernama bangsa Indonesia, seperti diamanatkan di dalam UUD 1945 untuk mencerdaskan dan juga mengentaskan kemiskinan pun akhirnya menyejahterakannya.
Namun realitas berbicara lain, masih ada ketimpangan besar antara ‘kata-kata melangit’ Ki Hajar Dewantara bertumbukan hari ini dengan para alumni yang kebetulan menjadi bagian dari pengurus negara. Individu Sujana, yang disebut ‘Alumni’ itu, tak menjadi bijak malahan membiarkan bangsa kehilangan ‘kecerdasannya’, dengan bukti berdasarkan laporan World Population Review dengan judul Average IQ by Country tahun 2022.
Skor IQ negara-negara yang digunakan terdapat di dalam kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dalam peringkat ke-10 dalam kawasan Asia Tenggara dengan capaian rerata skornya sebesar semata-mata 78,49. Sementara itu, di pemeringkatan dunia, rerata skor IQ Indonesia berada di dalam kedudukan ke-130.
Saat sama, pada Desember 2022 laporan miris terjadi, dengan aktivitas investigatif Harian Kompas mengatakan lebih banyak dari separuh penduduk Indonesia, sekitar 183,7 jt orang atau 68 persen populasi, ternyata tak mampu memenuhi keperluan gizi harian mereka. Pangan bergizi masih sulit dijangkau warga Indonesia.
Litbang Harian ini menghitung biaya yang perlu dikeluarkan orang Indonesia untuk membeli makan bergizi seimbang atau sehat sebesar Mata Uang Rupiah 22.126 per hari atau Mata Uang Rupiah 663.791 per bulan. Harga yang disebutkan berdasar standar komposisi gizi Healthy Diet Basket (HDB), yang juga digunakan Organisasi Pangan kemudian Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO). Dengan biaya sebesar itu, ada 68 persen atau 183,7 jt orang Indonesia yang tersebut tidaklah mampu memenuhi biaya tersebut.
Kecerdasan di pengertian, setidaknya pada perspektif skor IQ manusia Indonesia; selain juga ketakmampuan sebagian besar populasi bangsa mendapatkan asupan makanan bergizi memang sebenarnya cukup memprihatinkan pada waktu ini.
Ketimpangan juga Upaya Solusi
Tak hanya saja mempertentangkan ‘utopia Ki Hajar Dewantara’ tentang hasil Pendidikan juga Alumni Perguruan Tinggi, selain juga dengan amanat UUD 1945 yang dimaksud masih sangat jauh dari harapan dengan realitasnya, sebab pengurus negara tentu memiliki cacat selama ini; alumni selayaknya terus-menerus belajar menghadapi kenyataan kemudian berbenah diri.
Sebab itu, mengingat kembali cawan intelektual masa lalu, dari founder Universitas Jember, yaitu berbentuk Sesanti “Karya Rinaras Ambuka Budi, Gapura Mangesti Aruming Bawana”. Yang bermakna bahwa Pendidikan Tinggi Universitas Jember selayaknya menciptakan para alumni yang berkarya berlandas nalar kemudian budi pekerti yang baik serta membuka gerbang kemaslahatan bagi semesta.






